Assalamualaikum Wr. Wb
Welcome back to my blog.
Kali
ini saya akan membahas tentang sesuatu yang selalu dekat dengan kita semua, emm kira-kira apa ya? Nah tepat sekali,
media sosial. Dewasa ini, media sosial sangat erat dan dekat hubungannya dengan
kehidupan sehari-hari kita. Namun, sadarkah kita bahwa apa yang ditampilkan di
media sosial itu dapat membuat kita terisolasi secara intelektual ?. Nah
terisolasi secara intelektual disini maksudnya adalah seseorang yang dicekoki
informasi tentang bahayanya pemikiran tertentu, maka ia akan mengingkari
eksistensi gagasan lain. Sehingga terjadilah suatu kecenderungan yang membuat
seseorang mempunyai pemikiran fanatik tentang satu pemikiran saja. Dampak
inilah yang sering disebut dengan istilah “Filter Bubble alias Gelembung
Saringan”. Hal ini sering terjadi terutama dalam media sosial. Diawali dengan
adanya perubahan algoritma dalam penyeleksian suatu konten, yang semula
berbasis timeline (waktu), sekarang berubah menjadi penyaringan(filter)
berdasarkan history, riwayat, dan aktivitas pengguna di masa lalunya. Hal ini
menyebabkan seolah-olah mereka terkurung didalam balon yang berisi mayoritas
ialah orang-orang yang sependapat dengan pemikirannya saja. Keadaan ini tentu dianggap
sebagai perusak demokrasi dan dapatberpengaruh dalam pola pikir serta respon
dimasyarakat. Mengapa? Karena gelembung saringan ini dapat menciptakan efek
konsesus yang salah, artinya seseorang sering mengklaim orang lain yang tidak
sependapat dengannya dan menyimpulkan bahwa pendapatnya adalah pendapat
mayoritas. Padahal hal ini dapat saja berbeda jika ditempat lain.
Misalnya
terdapat seorang pengguna instagram yang fanatik terhadap suatu partai,
sebutlah si Putra yang sangat fanatik terhadap partai A. Karena kefanatikannya
tersebut Ia mengikuti, mengelike serta memberikan komentar terhadap segala
berita yang berkaitan dengan partai tersebut. Hal ini menyebabkan isi beranda
yang terdapat dalam akun instagramnya hanya berisi tentang berita yang menyangkut
partai A yang Ia dukung saja. Secara
tidak langsung hal ini membuat si Putra terisolasi secara intelektual dengan
partai tersebut sehingga Ia menghiraukan informasi selain yang berkaitan dengan
partai tersebut.
Dari
contoh diatas dapat disimpulkan bahwa Bubble
filter mempunyai efek negarif yaitu dapat membuat seseorang merasa bahwa
pendapatnya adalah mayoritas dan merasa kebal terhadap kritik orang lain. Selain
itu adanya Bubble filter ini juga
mengancam kelompok bersebrangan yang tidak sepemikiran dengannya. So, cobalah
untuk berfkir secara fair dan objektif serta berfikir terbuka agar kita dapat
memfilter diri sendiri dari justifikasi informasi.
Sekian
tulisan dari saya, terimakasih telah membaca dan semoga bermanfaat untuk kalian
dan teman-teman kalian yaaaa! See you!
Wassalamualaikum
Wr. Wb.
Referensi :

Tidak ada komentar:
Posting Komentar